Namun, saat sup ayam hampir matang...
Pet! Tiba-tiba seluruh rumah menjadi gelap gulita. Lampu padam! [
1]
"Oh tidak! Gelap sekali!" teriak Tini sambil memegang tangan Budi. [
1]
Ayah segera meraba-raba kantongnya dan menyalakan lampu darurat kecil. Suasana dapur yang tadinya gelap kini remang-remang oleh cahaya kuning yang hangat. [
1]
"Jangan takut, Tini. Ini hanya pemadaman listrik sebentar," kata Ayah menenangkan. [
1]
Ibu tertawa kecil dan berkata, "Wah, lihat! Ini malah jadi makan malam yang spesial. Kita memasak dan makan dalam kegelapan seperti sedang berkemah!" [
1]
Budi dan Tini yang tadinya tegang langsung tersenyum. Mereka melanjutkan makan malam dengan diterangi lampu kecil. Alih-alih mengeluh karena gerah atau gelap, mereka justru saling bercerita, tertawa, dan menebak-nebak bayangan di dinding. [
1]
Tidak lama kemudian,
bzzzt... lampu kembali menyala terang! Budi dan Tini bersorak gembira. Selesai makan, mereka bersama-sama membereskan meja dan mencuci piring. [
1,
2]
Sebelum tidur, Ibu memeluk kedua anaknya. "Terima kasih ya, Budi dan Tini sudah jadi anak pintar yang tidak rewel dan mau membantu." [
1]
"Sama-sama, Ibu. Menolong Ayah dan Ibu itu seru!" jawab Budi. [
1]
Malam itu, Budi dan Tini belajar bahwa tantangan kecil—seperti lampu padam—bisa menjadi momen yang menyenangkan jika dihadapi dengan senyuman dan kebersamaan bersama keluarga. Karena bagi mereka, kebersamaan adalah hal yang paling berharga. [
1,
2]
đź’ˇ